Mengenal Fakta-Fakta Soteriophobia, Rasa Takut Bergantung pada Orang Lain
Ilustrasi fobia bergantung pada orang lain (Unsplash/Yasin Hoṣgör)

Bagikan:

Makassar—Rasa takut terhadap sesuatu, atau yang disebut sebagai fobia, dialami seseorang berdasarkan pertimbangan irrasional. Bagaimana tidak, takut pada semut dan hewan lainnya juga termasuk sebagai fobia. Termasuk rasa takut bergantung pada orang lain yang disebut dengan Soteriophobia.

Apa itu soteriophobia?

Jenis fobia lebih dari 100, tetapi dilansir Halodoc, Senin, 16 Agustus, terbagi menjadi tiga. Pertama agoraphobia adalah ketakutan akan situasi maupun tempat yang tidak dapat dihindari.

Kedua, fobia sosial di mana soteriophobia tergolong jenis fobia ini. Fobia sosial ditunjukkan dengan rasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain.

Ketiga, fobia spesifik yang meliputi rasa takut dan cemas terhadap hal tertentu. Seperti misalnya takut ketinggian, takut ruang sempit, takut jarum suntik, takut laba-laba, dan takut gelap.

Bagaimana gejala soteriophobia?

Pada kasus tertentu, orang yang mengalami soteriophobia didorong keinginan untuk mandiri dan takut kehilangan kendali. Bahkan ketika sangat membutuhkan bantuan, penderita soteriophobia berkeras menolaknya hingga marah.

Semakin didesak untuk menerima bantuan, tindakan tolakan akan semakin keras. Seseorang yang mengalami soteriophobia juga cenderung berpindah-pindah tempat untuk menghindari bergantung dengan orang lain.

Pada dasarnya, gejala soteriophobia sangat bervariasi. Untuk memastikan, dibutuhkan konsultasi ahli dengan menelusuri sejumlah aspek mental. Gejala fisik yang pada umumnya dialami antara lain gelisah, marah, frustasi, gemetar, ekspresi berteriak, dan detak jantung meningkat.

Penyebab soteriophobia

Dilansir Topcareer.id, Senin, 16 Agustus, penyebab soteriophobia secara umum dari faktor eksternal atau peristiwa traumatis dan internal yang meliputi faktor keturunan atau genetik.

Cara mengatasi fobia

Terdapat sejumlah perawatan yang dilakukan secara klinis, seperti hypnoalalysis atau hipnoterapi, neuro-linguistic program (NLP), dan psikologi energi.

Cara pertama, hipnoterapi, dilakukan oleh terapis profesional untuk menggali pikiran bawah sadar dengan tujuan mengidentifikasi dan membangun sudut pandang baru mengenai peristiwa traumatis.

NLP merupakan studi dan praktik tentang bagaimana menciptakan realitas diri. Premis dasarnya adalah bahwa kata-kata dipakai untuk mencerminkan persepsi batin dan bawah sadar dari sebuah persoalan.

Dilansir Common Phobias, cara ketiga dalam mengatasi fobia adalah dengan langkah-langkah sederhana untuk membuat perubahan. Seperti dengan yoga, taichi, prana, akupresur, dan metode kedokteran lain yang mampu merangsang titik energi dengan prosedur psikologis.

Meskipun terapi yang terakhir masih kontroversial, tetapi beberapa pihak menerapkannya sebagai sebuah terapi.

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di VOI, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!