Dukung Langkah PBB, Menag Yaqut: Islamofobia dan Gelombang Ketakutan Terhadap Agama Harus Diperangi
Menteri Agama Yaqut Cholil Quomas alias Gus Yaqut (Foto: Antara)

Bagikan:

MAKASSAR - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyetujui sekaligus mendukung langkah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menjadikan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia dan menyatakan bahwa gelombang ketakutan terhadap agama harus diperangi.

"Kemenag menyambut baik dan mendukung ketetapan PBB, tanggal 15 Maret dijadikan sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia. Segala bentuk Islamofobia memang harus diperangi," ujar Menag Yaqut dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menag menyebutkan istilah Islamofobia sering dipahami sebagai gelombang prasangka, diskriminasi, ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan Muslim.

Fobia sebagai salah satu faktor ancaman kerukunan dan harmoni

Menurutnya, semua bentuk prasangka dan ketakutan yang ditujukan kepada agama, harus diperangi karena kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mengancam kerukunan dan harmoni antarumat beragama.

"Segala bentuk gelombang ketakutan terhadap agama, harus diperangi," kata dia.

Menag berharap keputusan PBB ini dapat dijadikan momentum bagi umat Islam untuk ambil posisi di garda terdepan dalam mengatasi berbagai permasalahan dunia. Umat Islam harus dapat memperlihatkan tingkah laku yang sesuai dengan prinsip Islam yang cinta damai.

Demikian pula umat agama lainnya, jelas dia, agar menunjukkan sikap sesuai ajaran agamanya masing-masing yang juga mengutamakan persaudaraan dan kedamaian.

"Penting bagi umat seluruh agama untuk memastikan bahwa kerukunan, perdamaian, dan harmoni adalah ajaran universal agama. Sudah semestinya semua bergerak bersama dalam menciptakan persaudaraan kemanusiaan, bukan perpecahan dan permusuhan," kata dia.

Jalin komunikasi dengan dua tokoh agama dunia

Ikhtiar melahirkan perdamaian dunia harus terus diusahakan. Kemenag terus berupaya menjalin komunikasi dengan dua tokoh agama dunia, Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb dan Pemimpin Gereja Vatikan Paus Fransiskus, untuk menyebarkan benih perdamaian dunia.

Menag juga memberi apresiasi atas inisiatif keduanya dalam mempromosikan nilai-nilai koeksistensi, toleransi, dan perdamaian yang dirinci dalam Dokumen Persaudaraan Manusia. Dokumen ini ditandatangani bersama oleh Imam Besar Ahmed Al-Tayeb dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada Februari 2019.

"Kami masih mengupayakan kedua tokoh agama dunia itu bisa hadir di Indonesia untuk melihat kerukunan, harmoni, dan persaudaraan bangsa Indonesia yang sangat beragam ini," kata dia.