Dukung EBT, ESDM Sulsel Dorong Penggunaan Biogas Rumah Tangga
Peternak sapi, Basir Daeng Rewa di Desa Matoanging, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros yang memanfaatkan kotoran sapi menjadi energi biogas. Antara

Bagikan:

MAKASSAR - Demi mendukung bauran Energi Baru Terbarukan (EBT), Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulawesi Selatan terus mendorong pengadaan dan penggunaan energi biogas untuk skala rumah tangga.

"Energi Biogas dari limbah atau kotoran sapi merupakan salah satu dari jenis EBT yang dapat mempercepat bauran EBT, sekaligus mendorong pemulihan ekonomi nasional (PEN)," kata Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Ketenagalistrikan (EBTK), Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulawesi Selatan, Amrani S Suhaeb di Makassar, Selasa 15 Februari.

Sarana dan prasarana capai 2.500 unit

Berdasarkan data ESDM Sulsel diketahui, pengadaan sarana dan prasarana energi biogas yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulsel saat ini sudah mencapai 2.500 unit.

Hal tersebut berjalan sejak program pemanfaatan limbah atau kotoran ternak awal 2000.

Mengenai dukungan pengadaan energi biogas di lapangan, Amrani menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian ESDM, Bappenas, dan Hivos (organisasi pembangunan Belanda) serta pemerintah daerah.

Khusus pengadaan sarana energi biogas dalam dua tahun terakhir, lanjut dia, meskipun dinas dan pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran akibat refocusing anggaran pada masa pandemi COVID-19, namun pada tahun 2020 masih ada pengembangan energi biogas sebanyak 8 unit.

"Jadi total pengadaan sarana dan prasarana energi biogas saat ini 24 unit, karena sebelumnya ada 18 unit," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang peternak sapi di Desa Mattoanging, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros Basir Daeng Rewa mengungkapkan sangat terbantu dengan penggunaan biogas dari kotoran sapi.

Sudah 11 tahun manfaatkan biogas

Dia menjelaskan, sudah sekitar 11 tahun memanfaatkan biogas untuk memasak, sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya dapur untuk membeli gas elpiji.

Menurut dia, awalnya hanya mempunyai beberapa ekor sapi saja, namun setelah itu berkembang menjadi 15 ekor sapi sebagai sumber untuk pembuatan energi biogas.

"Alhamdulillah, selain pemanfaatan biogas dari kotoran sapi ini, juga hasil akhir dari pengelolaan biogas tersebut dijadikan pupuk kompos yang juga bernilai ekonomis," katanya.

Harga pupuk kompos yang dihasilkan itu rata-rata dijual Rp40 ribu per karung dengan berat 40 kilogram. Untuk sekali produksi pupuk kompos itu dapat menghasilkan 20 - 40 karung pada saat musim kemarau.

Ikuti info dan berita lainnya di VOI, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!