Studi di Amerika Simpulkan Pemilik Hewan Peliharaan Memiliki Ingatan Lebih Baik, Berikut Penjelasannya
Ilustrasi. (Foto: Dok. Antara/Pixabay)

Bagikan:

Makassar--Studi American Academy of Neurology menyatakan, hewan peliharaan yang Anda miliki di rumah dapat memberikan manfaat kesehatan jangka panjang di luar dukungan emosional.

Menurut studi yang akan dipresentasikan pada April mendatang itu, pemilik hewan peliharaan yang sudah berusia lanjut mempunyai tingkat penurunan kognitif lebih lambat daripada mereka yang tidak mempunyai hewan peliharaan.

Insider dikutip Antara, Minggu 27 Februari, mengungkapkan, untuk membandingkan skor kognitif pemilik hewan peliharaan dan bukan pemilik hewan peliharaan, para peneliti menggunakan data dari University of Michigan's Health and Retirement Study. Studi awal melibatkan beberapa tes untuk mengevaluasi memori dan kognisi selama periode enam tahun.

Lebih lambat 1,2 poin dalam penurunan kognitif

Mereka menemukan, dalam jangka panjang, pemilik hewan peliharaan lebih lambat 1,2 poin dalam penurunan kognitif dibandingkan orang tanpa hewan peliharaan.

Selama masa studi enam tahun, peserta diberi skor pada skala 27 poin berdasarkan kemampuan kognitif mereka.

Siapa pun yang memperlihatkan tanda-tanda penurunan kognitif pada awal penelitian tidak termasuk dalam sampel akhir dari 1.369 orang dewasa sekitar usia 65 tahun.

Lebih dari setengah partisipan studi melaporkan mempunyai hewan peliharaan pada saat survei dan 32 persen memiliki hewan peliharaan selama lima tahun atau lebih.

Studi sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara kepemilikan hewan peliharaan dan manfaat kesehatan jantung, seperti detak jantung istirahat yang lebih rendah dan tekanan darah dasar.

Ada kemungkinan mempunyai hewan peliharaan dapat melindungi dari stres, meskipun penelitian belum membuktikan sebab dan akibat langsung.

“Karena stres dapat mempengaruhi fungsi kognitif secara negatif, efek penyangga stres potensial dari kepemilikan hewan peliharaan dapat memberikan alasan yang masuk akal untuk temuan kami,” penulis studi Tiffany Braley, seorang profesor neurologi di University of Michigan.