BPS: Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok di Sulsel Lampaui Rata-rata Nasional
Tangkapan Layar - Kepala BPS Sulsel Suntono saat memaparkan inflasi Sulsel secara virtual di Makassar, Rabu (1/3/2023). ANTARA/Muh Hasanuddin

Bagikan:

MAKASSAR - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) Suntono mengungkapkan  harga kebutuhan pokok di daerah ini  terjadi kenaikan cukup tinggi melampaui rata-rata nasional terlihat dari angka inflasi Februari 2023 (secara tahunan) mencapai 5,65 persen.

"Inflasi nasional Februari 2023 dibandingkan bulan sama tahun 2022 (Year on Year) hanya 5,47 persen, sementara yang terjadi Sulsel 5,65 persen, pertanda terjadi kenaikan harga melebihi rata-rata daerah lain di Indonesia," kata Suntono di Makassar dilansir ANTARA, Rabu, 1 Maret.

Komoditas penyumbang terbesar inflasi, yakni  bensin (premium) dengan andil 0,908 persen, kemudian beras (0,266 persen), dan angkutan udara (0,218), telur ayam ras (0,188), rokok kretek filter (0,161), kue kering berminyak (0,112), minyak goreng (0,106), tarif kendaraan roda dua (0,099) dan ikan cakalang (0,99 persen).

Suntono menyebutkan dari lima kota IHK di Sulawesi Selatan, inflasi tertinggi terjadi di Makassar sebesar 5,72 persen dengan IHK sebesar 114,66 dan inflasi terendah Bulukumba 4,53 persen dengan IHK sebesar 114,24.

Sementara untuk inflasi secara bulanan(mtm) Februari dibandingkan Januari 2023 justru terjadi penurunan harga atau (deflasi) sebesar 0,22 persen, deflasi terjadi karena adanya penurunan indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,60 persen,kelompok transportasi sebesar 0,57 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan (0,01), kelompok rekreasi, budaya dan olahraga (0,03).

Adapun tujuh kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi yaitu, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,09 persen; kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,11 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,08 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,14 persen.