Resmikan Revitalisasi Industri Gula Nasional, Erick Thohir Dorong PT SGN Kembangkan Bioetanol untuk Atasi Masalah Impor BBM
Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Dok. Kementerian BUMN)

Bagikan:

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mendorong pengembangan bioetanol. Langkah ini sebagai upaya menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengatasi ketergantungan Indonesia terhadap rantai pasok dunia khususnya untuk sektor pangan dan energi, terutama impor BBM.

Pengembangan bioetanol ini dimulai dengan diresmikannya revitalisasi industri gula nasional untuk mendukung ketahanan pangan dan energi di Mojokerto, Jawa Timur. Peresmian tersebut menandai dimulainya penataan organisasi PT Perkebunan Nusantara III (Persero)/PTPN Group melalui pembentukan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) yang akan berperan besar dalam mendukung ketahanan pangan dan energi.

PT SGN merupakan wujud dari akselerasi transformasi bisnis di PTPN Group Holding yang berasal dari penggabungan aset-aset perusahaan perkebunan tebu milik PTPN Group, yakni PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII dan PTPN XIV.

Integrasi PTPN Group melalui pembentukan PT Sinergi Gula Nusantara, PT Sinergi Sawit Nusantara, dan PT Aset Manajemen Nusantara ini sesuai dengan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun 2022 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Sebagai entitas tunggal dari 36 pabrik gula (PG) milik PTPN Group, PT SGN akan menjadi perusahaan gula terbesar di Indonesia dengan proyeksi perluasan lahan hingga 700 ribu hektare di 2028 mendatang. Dengan luasan lahan tersebut, diharapkan PT SGN akan mampu menguasai 60-70 persen pasar gula nasional di tahun 2028.

"Kita harapkan PT SGN ini bisa memenuhi kebutuhan gula nasional, dan kesejahteraan petani harus menjadi bagian karena pembukaan 700 hektar lahan ini bukan hanya lahan PTPN saja, tetapi juga bekerja sama dengan petani," katanya dalam keterangan resmi, Selasa, 11 Oktober.

Erick mengatakan revitalisasi industri gula nasional yang dilakukan oleh PT SGN ini termasuk melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi on farm maupun off farm. Sehingga diharapkan mampu mewujudkan swasembada gula konsumsi nasional tahun 2028, dan gula konsumsi industri tahun 2030.

Sebagai informasi, pada tahun 2021 produksi gula kristal putih (GKP) Nasional adalah sebanyak 2,35 juta ton dengan kebutuhan konsumsi gula nasional sebesar 3,12 juta ton. Dengan demikian, sisa kebutuhan gula nasional terpaksa harus dipenuhi melalui impor sebesar 1,04 juta ton setara GKP.

Kata Erick, pembentukan PT SGN merupakan solusi untuk percepatan swasembada gula konsumsi, peningkatan kesejahteraan petani tebu, juga menjaga stok gula konsumsi untuk stabilisasi harga.

Selain upaya untuk kedaulatan pangan, lajut Erick, PT SGN juga diproyeksikan untuk mewujudkan kedaulatan energi melalui bioetanol berbasis tanaman tebu yang memberi kontribusi nyata terhadap Biofuel sebagai energi baru terbarukan (EBT).

"Kita harus memastikan juga agar PT SGN ini bisa memproduksi bioetanol agar ke depan ini bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan impor BBM," ucapnya.

Bahkan, kata Erick, pihaknya juga sudah melakukan benchmarking dengan negara tetangga Brasil, dimana mereka telah berhasil mendorong turunan gula menjadi bioetanol. "Kalau negara lain bisa kenapa Indonesia tidak bisa," ucap Erick.

Sejalan dengan peningkatan produktivitas gula yang dilakukan PT SGN nantinya, produksi bioetanol berbasis tebu yang memberikan kontribusi nyata pada biofuel diharapkan dapat turut meningkat.

"Kita targetkan untuk bisa menghasilkan 1,2 juta kiloliter minyak mentah (di tahun 2030). Karena itu, kehadiran Pertamina untuk menjadi off taker menjadi penting supaya bisa dipastikan bahwa apa yang menjadi kebutuhan petani dan gula nasional berkesinambungan dengan kebutuhan energi nasional dengan mencampur bioetanol ke BBM dan menciptakan BBM ramah lingkungan seperti yang kita saksikan di Brasil," katanya.

Kata Erick, hal ini menjadi penting untuk substitusi kebutuhan impor minyak mentah dan digunakan untuk bauran energi kendaraan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, negara akan memiliki alternatif energi untuk mengurangi beban ketergantungan impor BBM.

Lebih lanjut, Erick mengatakan untuk mendukung hal tersebut, PTPN bersinergi dengan Pertamina untuk pilot project pengembangan biofuel. Hal ini merupakan langkah penting dalam mewujudkan penyediaan bioetanol kepada masyarakat sebagai bahan bakar kendaraan yang lebih ramah lingkungan, seperti yang sudah terjadi di Brasil.