Tewaskan Warga Klaten di Raja Ampat, Begini Bahaya Ular Putih Papua yang Belum Ada Anti Racunnya di Dunia
Ular putih di pedalaman Papua (Tangakapan layar Youtube B 06 ADVENTURE)

Bagikan:

MAKASSAR - Dokter ahli gigitan ular berbisa di Indonesia Tri Maharani menyebutkan belum ada anti racun untuk ular putih Papua (micropechis ikaheka) di dunia. Sehingga aktivitas pencarian ular tersebut sangat tidak dianjurkan untuk siapapun.

Hal ini diungkapkan Tri menyikapi peristiwa kematian Anaas Muhtazul'ulum Exalos Indonesia akibat digigit micropechis ikaheka di Misool Raja Ampat, Provinsi Papua Barat pada Sabtu, 12 Maret lalu.

Tri bilang, 30 menit setelah digigit ular berbisa, Anaas menghubungi dirinya untuk meminta pertolongan.

Lalu, dokter spesialis kedaruratan yang penasihat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk kasus gigitan ular itu mengarahkan korban untuk mendatangi puskesmas terdekat yakni Puskesmas Folley Misool Raja Ampat untuk menerima penanganan medis.

Ia menjelaskan bahwa Anaas selanjutnya diantar oleh masyarakat Papua di Misool Raja Ampat menggunakan transportasi laut menuju Puskesmas Folley guna mendapat perawatan medis.

"Melalui jaringan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) saya menelepon dokter di Puskesmas Folley Misool Raja Ampat untuk memberikan langkah-langkah penanganan terhadap korban, namun tidak tertolong karena tidak ada peralatan yang khusus guna penanganan gigitan ular berbisa," katanya lewat rilis yang diterima di Sorong, Papua Barat, Antara, Senin, 14 Maret.

Dengan kejadian tersebut, Tri Maharani mengimbau seluruh masyarakat Indonesia agar tidak melakukan aktivitas mencari ular Papua, terutama micropechis ikaheka karena nyawa taruhannya

"Belum ada antiracunnya di dunia," singkat dia. 

Ular putih adalah ular yang sangat beracun

Menurutnya, masyarakat awam di Papua memahami bahwa ular putih merupakan ular yang sangat beracun dan mereka menghindarinya.

"Saya pernah melakukan penelitian di Raja Ampat dan saya tahu persis bahwa masyarakat setempat tidak pernah menangkap dan memelihara Micropechis ikaheka karena mereka tahu ular tersebut beracun," katanya.

Dikatakan Tri, korban Anaas berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Dia mencari ular di Misool Raja Ampat sehingga peristiwa ini adalah kecelakaan kerja yang tidak seharusnya terjadi.

Sebab, ditegaskannya lagi bahwa aktivitas mencari ular apa lagi Micropechis ikaheka tidak boleh dilakukan karena nyawa taruhannya.

"Anaas bukan pegiat lingkungan dan pemerhati konservasi, tetapi dia mencari ular untuk jual beli dan ada foto-foto yang dikirim kepada saya dari masyarakat di Misool Raja Ampat," demikian Tri Maharani.